06/02/10

Penikmat Hening

agitasiagitasi mungkin menghambatku
meredam pendar yang mungkin menghampiri
dan kini aku pada gerak anjak tak mau
aku orang memang begini
penikmat hening ataupun mangu

juga tak ku ngerti kenapa ini
menghumban coret pada internet
padahal aku orang suka sendiri menepi diri dari duri
agitasiagitasi sensasi

bukan aku orang menghindar diri tapi aku orang
memang begini

burungburung prenjak anjak kitar itu pepohon
bising berkicau orang tak hirau
ini otak ajak prenjak anjak bertukar
aku meracau orang tak sadar

mungkin aku tidaklah sama, bertahun dulu pastilah
beda

enjak anjak aku dewasa
terhadap hikmat aku wasangka

aku pereguk sepi, penikmat sunyi
dalam hening aku sendiri dan biarlah;
aku orang memang begini

Malam dan Kelam Beserta Angan

bertanya malam pada kelam
apa gerangan angan?
kelam duduk merunduk diam;
kenapa malam menanya rupanya angan?
bukankah angan itu seperti kepulan asap rokok
tertiup angin angan pun hilang

coba tanya pada si perokok, kemana asap yang dia
kepulkan?
apa dia simpan pada anjung jantung atau
diburai surai angin mengabai

maka dimanakah angan?
pada kelam bertanya malam dan diapun diam

Terhadap Hambatan: Kau atau Aku yang Keluar dari Tubuh

Aku kabar ke kau yang kabirkabiran
aku masih disini walau kau kaburkaburkan
bukanlah kabul kau aku kibarkibarkan
pertentangan itu saja kau kobarkobarkan

apa kabar kau abarabar?
kenapa di sini masih benih kau tebar
ayolah! pergilah kau segera keluar
pada tubuhku
pada rapuhku
pada angkuhku
pada gaduhku
pada aku

kau aku ada dua bukan satu
kau penghalang aku punya jalan
kau penghadang aku punya haluan

kita tak sama pasti berbeda
kalau begitu keluarlah dari aku punya tubuh
atau aku yang keluar meninggalkan tubuh

Ode pada Hidup

tik...tik...tik...
gemercik rintik sisa hujan masih terdengar
kraak...
sayupsayup gemeretak hentak ranting pepohon
dan gemeletap langkah kakikaki;
tap...tap...tap...
whussh...desir angin menyisir
udara teramat dingin
tuk...tuk...tuk...
gigiku gemeletuk dengan sendirinya
aku gemetar. gemerencing aneh mulai terdengar
pepohon tua beraneka rupa
aku di hutan sendirian
tanpa teman
tanpa bekal
hanya berjalan
gontai

Perdebatan

kenapa kalian menjadi teroris? tanya dia berapiapi
Itu propaganda anda,
jawabku malas

kenapa tidak ada keadilan untuk wanita? pertanyaan itu pernyataan.
itu opini anda; aku nyatakan

kenapa kalian suka berperang? tanyanya dengan angkuh,
siapa yang mau perang? jawabku serta dahi berkerut,
kami cinta damai

tapi...
tapi apa? Oh...di Iraq, Afganishtan, tanya saja sama Om Bush

di Indonesia...
Oh...kalau itu bisa kau tanya pada cermin

Pribadi Yesus teladan bagi kami. kenapa kalian
membencinya? Dia berdarahdarah untuk menebus
dosa manusia.

tunggutunggu...
siapa bilang aku membenci Yesus?

jadi kenapa...
kenapa apa? coba kalian terangkan padaku
trinitas itu...

lalu dilukiskannyalah segitiga lalu berkata,

disana ada
satu dalam
tiga pribadi
tiga dalam
satu pribadi

seorang lagi...
membuat teh manis
meletakkan teh
lalu gula
lalu air
dan lihat! jadi satu
ujarnya berseriseri