21/02/10

Terbuang Pada Ilalang

anakanak panah berkejaran
jiwajiwa kalah bergeletakan
pada esok yang akan datang
pada lelah telah tinggi menjulang
secarik larik
sebait lirik
pelik tersurat sirat
remuk...

lenyap
senyap
endap
tak juga terserap

kami yang terbuang pada ilalang
pada resah berkepanjangan
terbang tebang mimpi

09/02/10

Minggu Pertama di Semenanjung Malaysia

tubuh ini sudah kaku
belum cukup lama
mungkin dua tiga jam lagi lalu bolehlah
ku ratap itu mesinmesin bertenaga keringat dan darah
tapi majikan tak mau ngerti bahwa ini pukul dua pagi
waktu semenanjung

tiga pagi waktu semenanjung
aku dan mereka tidur sampai ke ujung
belum cukup lama
sebab hujan dan petir roboh itu atap sebagiannya
kami tak tidur apalagi mendengkur
mengkeret pada nafasnafas sahabat sepenanggungan
dan kasutkasut berenang
sebagian menyelam kemana entah
Udin bergetar
Aab gemetar
Ucok berkoar
yang lain bertumplak pada ruang kering yang tersisa
aku marah dan siasia

hujan yang menyerang telah kalah
tapi percuma
jam di tangan Nazri menunjukkan lima tigapuluh
waktu semenanjung
belum cukup lama
majikan datang dan berkata kami harus kerja

tubuh ini masih kaku
belum cukup lama
belum bisa mimpi indah
belum bisa apaapa
mungkin dua tiga jam lagi lalu bolehlah

selusin manusia mencari kasut
selusin manusia pikirannya kusut
selusin manusia bertanya pada hembusan dingin tadi malam
yang masih bersisa;
masihkah aku manusia?

padahal ini baru minggu pertama
di semenanjung Malaysia

08/02/10

Di Tepi Pantai

granitgranit berhampar dampar di tepi pantai
kaparkapar tebar gempar di alur air
aku pada mulut celopar gampar bayu merayu
masih termangu dalam bengu tembakau bakau

kaparkapar masih saja bertebar kibar
itu bakau jangkau kapar ketika dampar modar
aku pada kisah resah desah belasah rasa
masih dungu selayak dulu, tidaklah baru

desirdesir angin dingin pacu aku punya adrenalin
meratap gemeletap kakikaki pembuat hantap
aku pada gerus arus terus memangku beban
masih diri ini sendiri menanti rintih rintik badai

semburat merah binar berpendar melukis pantai
menggubris habis para penikmat hikmat di tepitepinya
aku pada hikmat bersila pada granit bukanlah dedemit
masih menghumban tanya; apa aku sebenarnya?

Perbincangan Terakhir

jangan pergi dulu...
jangan cepatcepat berlalu
hentakkan pantatmu pada kursi itu dan
kita bicara
terbuka
kau dan aku
hanya berdua
tentang kisah kita

di luar hujan masih mengepung
nanti kau basah
lalu sakit
dan ibumu marah mungkin bukan hanya pada kau
atau aku
tapi juga pada hujan
kau tak mau kan?

terbuka saja kau mau apa...
jangan ikuti stagnan sunyi
andromeda saja petir menggelegar
masak kau tak cukup tegar

atau kau ragu akan aku
maka...
jangan salahkan raguku akan kau

Kau Pasti Tahu

kata siapa?
kata dia
kata mereka
tentang aku

lalu dia kata apa? mereka kata apa? tentang aku...
aku binatang
aku jalang
aku terbuang

lalu binatang itu apa? jalang itu bagaimana? terbuang daripada apa?
coba kau ambil cermin di samping
dekatkan padaku
lalu tanya hatimu
bukan dia
bukan mereka
bukan aku
bukan juga para plagiat yang mengatasnamakan persahabatan
palsu

kau pasti tahu