13/03/10

Seloka Cak Bala Pada Facebook

kelam malam sudah melampau
mata pula masih belalak
sedari pagi teguk kopi
alamat jaga sampai pagi
buka facebook hibur diri
banyak nampak dara berjaga
mungkin kopi jadi durjana
semua orang gundah gulana
ada kawan coba disalam
salam diberi tiada jawaban
coba cari kawan yang lain
ada bule' itupun jadi
tapi malang bukan kepalang
Inggris Bala tak beraturan
itu bule' sungguhlah kejam
pakai Inggris, Inggris pasaran
semua disingkat semacam bonsai
terpaksa jawab biar terjerembab
dijawab pakai bahasa hutan

Itu Aqsa Kami Punya Cerita

dentuman meraum
itu peluru tak bermata
tak bercanda
meretak jiwajiwa dan hati rintih
meradang kemudian meregang

aku jauh,
tapi ini getar bukan ketar

mata memandang
hati merintih
jiwa membara
tangan serta kaki terikat
mampuku cuma melihat

itu Aqsa kami punya cerita
dari Mu'awiyah menuju Ottoman
dari Isra' Mi'raj sampai nanti kemudian

dentuman itu cuma dentuman
takkan runtuh karena auman
tembak kami punya ikhwan
akan ada ikhwan lain penggantinya
hingga bergelung gulung andromeda
hingga meretak tetak ini bumi
meluapluap pada isinya
membuncahbuncah pada keraknya

itu Aqsa kami punya cerita
bukan kau zionis bedebah
jangan pernah mimpi
kami takkan kalah
walau cuma satu yang tersisa.,

Pada Rasa Bukan Tubuh

rintih menyelam
temaram bersandar
pendar pada kitar
penghantar alkisah resah desah

sebenarnya tak ingin ku lukis kisah ini
juga tak harap dekap di sini
sebab tak mampu meragu
tapi biarlah ini rangkai bicara
bahwa aku merindu
walau tidak tentang adamu
juga tidak tentang tubuhmu

alkisah pada parodi
rindu berkisar seperti bumi berputar
isi kepala di situ saja
diam saja
usah kemana
menari saja walau tanpa irama
siluet bentuk bayang
melesat berkelebatan
menggapai capai bayang tergerai
dingin
semu
ku peluk sajalah

bayu menyelinap
aku saja masih tiarap
ini rindu ribu menyerbu
serbu pembuluh coba membunuh

mungkin aku tak sekuat itu
seperti Gatot otot kawat tulang besi
sebab ini rindu, saja memburu
hingga di ambang
batasbatas tiada rentas

ah, ini cuma sajak pengusir rindu
pada rasa bukan tubuh

Perempuan Malam

dingin itu tidak mengganggu bahakmu.
meledak hentak begitu saja sesukanya.
meja di depan bergeleng minta pengertian
sebab kau sepak dia terus berulang.
bahakmu menyisakan cerita-cerita kedengaran usang
dan gersang. kemudian kau dekap erat angin malam yang mengitari
dan mendayu rayu seolah tak lama lagi angin itu akan menghamilimu
tak lama berselang, hujan membawa anak-anak panah,
datang menghujatmu tapi kau tersenyum sipu lalu kau bilang,
"Sudahlah, jangan berpura-pura begitu."

segerombolan armada nyamuk juga ikut mengamuk pada lusuhmu.
kau tampar mereka tapi bunyi tamparan itu seperti mengiang pada dirimu,
seperti bumerang yang kau lempar sekuat-kuatnya.
nyamuk-nyamuk itu tidak terluka tapi kenapa kau yang malah menjerit sekuat tenaga.

malam ini kau tak mungkin lelap,
mungkin seperti malam-malam sebelumnya.
malam setelah kau dibawa lari oleh mereka juga mimpi serta asa yang tersisa.
malam ini kau tampak compang-camping seperti compang-campingnya rute
lika-liku hidupmu. juga dalam diam, kau berharap,
petir nanti akan menyambarmu...

Mereka Bilang Puisi Itu Cengeng

semburat birat merambat
pada selasela mereka mulut bicara
tak lagi tahu kemana
jelata ya jelata saja
jangan lekas tuntas
jangan lantas jadi beluntas
ini sajak tak perlu akreditas.

ayolah,
kami bukan segerombol cengeng mentereng dalam jelaga saja
cuma kami perlu kancah bukan kincah
agar tercecah kami punya jiwa
itu agitasi sememangnya basi
pun bicara kami juga kira
tak mengapa,
biar sajalah,
mereka bilang apa,
kami disini saja

lantas lekas gegas kabari kami apa itu pemberani
apa kalian maksud dengan absurd
jelaga kalian katakan saja
jangan petantang lantas meradang
suka tidak suka terserah saja
usah menyerapah
apa mesti kita berhadaphadapan
kemudian teruji siapa yang menang

kami tidak perlu itu kawan
baiklah, kalian yang menang
dalam kecongkakan.

oh ya, hampir terlupa. samurai dahulu
pun menulis Haiku.,