ada tumpahan darah di geladak kapal
kecil seperti curah hujan yang mengukir pasir
banyak sebab rintik itu sememang jamak
para nakhoda mata tak tampak
sebab mereka tengah bermain di anjungan
merentang tangan umpama sayap
seperti romansa dalam titanic
para nakhoda lupa sekoci
mungkin juga lupa diri
sebab darah tak jua bersih
itu sekoci tinggal di pelabuhan kemarin
dimana mereka angkuh atas nama cupid
pernah aku juga ikut berlayar
mengarungi lautan diam dan kelam
ketika ombak besar memberi salam
badai dan petir melalu lalang
menghantam kompas ku bawa dengan hati
aku tenggelam di dasar samudera paling dalam
tak ada anjungan
tak ada geladak
apalagi sekoci
hanya diam, kelam dan hitam
04/04/10
Metanefros
mungkin kini metanefros
pengganti miris piranti nekrosis
sebab alkisah telah terampas
melaknat badan juga terhempas
cuma eritrosit pada tubuh lama memucat
tak tampak lagi hemoglobin bermain di sana
hanya beberapa urat tak berguna
pengganti miris piranti nekrosis
sebab alkisah telah terampas
melaknat badan juga terhempas
cuma eritrosit pada tubuh lama memucat
tak tampak lagi hemoglobin bermain di sana
hanya beberapa urat tak berguna
31/03/10
Sesuatu
coba kau berikan aku sesuatu
pastinya juga akan ku berikan kau sesuatu
hingga kita lagi tak tahu apa itu sesuatu
sampai sesuatu telah menyatu menjadi sesuatu
dan sesuatu akan bicara
pada kita
pada cerita
pada kisah
mungkin juga parodi jenaka
yang kadang kurang akan sesuatu
juga pula merindukan sesuatu
sesuatu itu kau, sesuatu itu aku
sesuatu itu nada yang tidak kita temukan
dalam rangkaian komposisi lagu yang tengah kita buat
pernah sesuatu itu singgah
kemudian hilang kemana entah
tidak lama
sebentar saja
mati ketika kau menjahilinya
musnah ketika aku melupakannya
hilang seperti raibnya bunyi jangkrik ditelan riuh pawana
aku suka orang yang berani merindu sesuatu
tapi itu bukan aku sebab kini,
lagi tidak ku berani merindu sesuatu
meski sesuatu telah menyatu haru pada pembuluh
mungkin nanti, bukan kini...
pastinya juga akan ku berikan kau sesuatu
hingga kita lagi tak tahu apa itu sesuatu
sampai sesuatu telah menyatu menjadi sesuatu
dan sesuatu akan bicara
pada kita
pada cerita
pada kisah
mungkin juga parodi jenaka
yang kadang kurang akan sesuatu
juga pula merindukan sesuatu
sesuatu itu kau, sesuatu itu aku
sesuatu itu nada yang tidak kita temukan
dalam rangkaian komposisi lagu yang tengah kita buat
pernah sesuatu itu singgah
kemudian hilang kemana entah
tidak lama
sebentar saja
mati ketika kau menjahilinya
musnah ketika aku melupakannya
hilang seperti raibnya bunyi jangkrik ditelan riuh pawana
aku suka orang yang berani merindu sesuatu
tapi itu bukan aku sebab kini,
lagi tidak ku berani merindu sesuatu
meski sesuatu telah menyatu haru pada pembuluh
mungkin nanti, bukan kini...
29/03/10
Biarkan Hutan Bernafas Barang Sebentar
ini malam aku terbang sebentar naik sepatu roda
ku tembus dingin malam yang hinggap pada sela-sela ketiak
suara jangkrik, katak, burung hantu sahut menyahut
aku bergidik, mata mendelik, sebab kini sendiri di hutan
pepohon berserakan
ilalang menjulang
reranting tak bertepian
ini nyamuk juga kelewatan
ini hutan tampak sangar ini malam
tapi aneh...
sayup terdengar merisak-isak
ini hutan menangis-ringis
pepohon bergetar-ketar
reranting merunduk enggan mencaduk
"Jangan bunuh kami," suara itu terkepung isak
"Siapa?" tanyaku dengan lutut gemeletar, hampir saja aku terkapar
"Biarkan kami bernafas," suara itu memelas
"Maksudmu?" tanyaku pada hitam kelam malam di tengah hutan
"Biarkan kami bernafas sebagai ganti akan kami beri kalian nafas."
"Maksudmu?"
"Kalian perlu kami."
"Maksudmu?"
"Maksudmu, maksudmu, apa kau terlalu bodoh?!"
"Maksudmu?"
Gedubraak!!
tilamku tetiba hancur,
ku longok keluar jendela; banjir
ku tengok lagi ke samping; longsor
ku tengok ke atas, lampu bergetar; gempa
ku tembus dingin malam yang hinggap pada sela-sela ketiak
suara jangkrik, katak, burung hantu sahut menyahut
aku bergidik, mata mendelik, sebab kini sendiri di hutan
pepohon berserakan
ilalang menjulang
reranting tak bertepian
ini nyamuk juga kelewatan
ini hutan tampak sangar ini malam
tapi aneh...
sayup terdengar merisak-isak
ini hutan menangis-ringis
pepohon bergetar-ketar
reranting merunduk enggan mencaduk
"Jangan bunuh kami," suara itu terkepung isak
"Siapa?" tanyaku dengan lutut gemeletar, hampir saja aku terkapar
"Biarkan kami bernafas," suara itu memelas
"Maksudmu?" tanyaku pada hitam kelam malam di tengah hutan
"Biarkan kami bernafas sebagai ganti akan kami beri kalian nafas."
"Maksudmu?"
"Kalian perlu kami."
"Maksudmu?"
"Maksudmu, maksudmu, apa kau terlalu bodoh?!"
"Maksudmu?"
Gedubraak!!
tilamku tetiba hancur,
ku longok keluar jendela; banjir
ku tengok lagi ke samping; longsor
ku tengok ke atas, lampu bergetar; gempa
28/03/10
Langganan:
Postingan (Atom)


