rintih menyelam
temaram bersandar
pendar pada kitar
penghantar alkisah resah desah
sebenarnya tak ingin ku lukis kisah ini
juga tak harap dekap di sini
sebab tak mampu meragu
tapi biarlah ini rangkai bicara
bahwa aku merindu
walau tidak tentang adamu
juga tidak tentang tubuhmu
alkisah pada parodi
rindu berkisar seperti bumi berputar
isi kepala di situ saja
diam saja
usah kemana
menari saja walau tanpa irama
siluet bentuk bayang
melesat berkelebatan
menggapai capai bayang tergerai
dingin
semu
ku peluk sajalah
bayu menyelinap
aku saja masih tiarap
ini rindu ribu menyerbu
serbu pembuluh coba membunuh
mungkin aku tak sekuat itu
seperti Gatot otot kawat tulang besi
sebab ini rindu, saja memburu
hingga di ambang
batasbatas tiada rentas
ah, ini cuma sajak pengusir rindu
pada rasa bukan tubuh
13/03/10
Perempuan Malam
dingin itu tidak mengganggu bahakmu.
meledak hentak begitu saja sesukanya.
meja di depan bergeleng minta pengertian
sebab kau sepak dia terus berulang.
bahakmu menyisakan cerita-cerita kedengaran usang
dan gersang. kemudian kau dekap erat angin malam yang mengitari
dan mendayu rayu seolah tak lama lagi angin itu akan menghamilimu
tak lama berselang, hujan membawa anak-anak panah,
datang menghujatmu tapi kau tersenyum sipu lalu kau bilang,
"Sudahlah, jangan berpura-pura begitu."
segerombolan armada nyamuk juga ikut mengamuk pada lusuhmu.
kau tampar mereka tapi bunyi tamparan itu seperti mengiang pada dirimu,
seperti bumerang yang kau lempar sekuat-kuatnya.
nyamuk-nyamuk itu tidak terluka tapi kenapa kau yang malah menjerit sekuat tenaga.
malam ini kau tak mungkin lelap,
mungkin seperti malam-malam sebelumnya.
malam setelah kau dibawa lari oleh mereka juga mimpi serta asa yang tersisa.
malam ini kau tampak compang-camping seperti compang-campingnya rute
lika-liku hidupmu. juga dalam diam, kau berharap,
petir nanti akan menyambarmu...
meledak hentak begitu saja sesukanya.
meja di depan bergeleng minta pengertian
sebab kau sepak dia terus berulang.
bahakmu menyisakan cerita-cerita kedengaran usang
dan gersang. kemudian kau dekap erat angin malam yang mengitari
dan mendayu rayu seolah tak lama lagi angin itu akan menghamilimu
tak lama berselang, hujan membawa anak-anak panah,
datang menghujatmu tapi kau tersenyum sipu lalu kau bilang,
"Sudahlah, jangan berpura-pura begitu."
segerombolan armada nyamuk juga ikut mengamuk pada lusuhmu.
kau tampar mereka tapi bunyi tamparan itu seperti mengiang pada dirimu,
seperti bumerang yang kau lempar sekuat-kuatnya.
nyamuk-nyamuk itu tidak terluka tapi kenapa kau yang malah menjerit sekuat tenaga.
malam ini kau tak mungkin lelap,
mungkin seperti malam-malam sebelumnya.
malam setelah kau dibawa lari oleh mereka juga mimpi serta asa yang tersisa.
malam ini kau tampak compang-camping seperti compang-campingnya rute
lika-liku hidupmu. juga dalam diam, kau berharap,
petir nanti akan menyambarmu...
Mereka Bilang Puisi Itu Cengeng
semburat birat merambat
pada selasela mereka mulut bicara
tak lagi tahu kemana
jelata ya jelata saja
jangan lekas tuntas
jangan lantas jadi beluntas
ini sajak tak perlu akreditas.
ayolah,
kami bukan segerombol cengeng mentereng dalam jelaga saja
cuma kami perlu kancah bukan kincah
agar tercecah kami punya jiwa
itu agitasi sememangnya basi
pun bicara kami juga kira
tak mengapa,
biar sajalah,
mereka bilang apa,
kami disini saja
lantas lekas gegas kabari kami apa itu pemberani
apa kalian maksud dengan absurd
jelaga kalian katakan saja
jangan petantang lantas meradang
suka tidak suka terserah saja
usah menyerapah
apa mesti kita berhadaphadapan
kemudian teruji siapa yang menang
kami tidak perlu itu kawan
baiklah, kalian yang menang
dalam kecongkakan.
oh ya, hampir terlupa. samurai dahulu
pun menulis Haiku.,
pada selasela mereka mulut bicara
tak lagi tahu kemana
jelata ya jelata saja
jangan lekas tuntas
jangan lantas jadi beluntas
ini sajak tak perlu akreditas.
ayolah,
kami bukan segerombol cengeng mentereng dalam jelaga saja
cuma kami perlu kancah bukan kincah
agar tercecah kami punya jiwa
itu agitasi sememangnya basi
pun bicara kami juga kira
tak mengapa,
biar sajalah,
mereka bilang apa,
kami disini saja
lantas lekas gegas kabari kami apa itu pemberani
apa kalian maksud dengan absurd
jelaga kalian katakan saja
jangan petantang lantas meradang
suka tidak suka terserah saja
usah menyerapah
apa mesti kita berhadaphadapan
kemudian teruji siapa yang menang
kami tidak perlu itu kawan
baiklah, kalian yang menang
dalam kecongkakan.
oh ya, hampir terlupa. samurai dahulu
pun menulis Haiku.,
23/02/10
Retno Bilang Cinta
Retno bilang cinta...
pada hening yang berjelaga
dan temaram yang berpendar hikmah
bisikan nyanyian jangkrik terdengar mengalun rintih
pada sepertiga malam
di saat firasat mengarah alur
dalam pemahaman cinta.
Jangan bercinta bila takut akan hujan yang jatuh menderai.
Jangan bicara cinta bila kakikaki enggan melewati ranjau sendu.
Cinta berserah laksana fenomena tak jua mereda
seperti bumi yang membutuhkan pepohon dalam pemaktuban energi.
seperti langit yang membutuhkan lukisan awan dan pelangi setelah turun hujan
Prahara melintas rentas
terkadang menetap ratap
terlampau dalam masa sebenarnya.
menjelajah melewati sempadan seharusnya
Deraiderai embun pada pagi menjelang menjadi suatu petanda.
Belaian sepoi angin mencoba cari celah
dalam pemaksudan makna
menguat eratkan yang sudah ada.
bila cinta berkembang bunga tersiram
mekar tersibak harum semerbak
maka majulah
bila cinta berupa kaktus di padang tandus
takpun terurus lalu tergerus
maka bertahanlah
sebab penafsiran bisa saja salah
bila cinta berubah kelam seperti sepertiga malam
mencabik hingga berjelaga
maka mundurlah
sebab itu bukan sejatinya cinta
Seperti itulah Retno bilang cinta, kirakira...
pada hening yang berjelaga
dan temaram yang berpendar hikmah
bisikan nyanyian jangkrik terdengar mengalun rintih
pada sepertiga malam
di saat firasat mengarah alur
dalam pemahaman cinta.
Jangan bercinta bila takut akan hujan yang jatuh menderai.
Jangan bicara cinta bila kakikaki enggan melewati ranjau sendu.
Cinta berserah laksana fenomena tak jua mereda
seperti bumi yang membutuhkan pepohon dalam pemaktuban energi.
seperti langit yang membutuhkan lukisan awan dan pelangi setelah turun hujan
Prahara melintas rentas
terkadang menetap ratap
terlampau dalam masa sebenarnya.
menjelajah melewati sempadan seharusnya
Deraiderai embun pada pagi menjelang menjadi suatu petanda.
Belaian sepoi angin mencoba cari celah
dalam pemaksudan makna
menguat eratkan yang sudah ada.
bila cinta berkembang bunga tersiram
mekar tersibak harum semerbak
maka majulah
bila cinta berupa kaktus di padang tandus
takpun terurus lalu tergerus
maka bertahanlah
sebab penafsiran bisa saja salah
bila cinta berubah kelam seperti sepertiga malam
mencabik hingga berjelaga
maka mundurlah
sebab itu bukan sejatinya cinta
Seperti itulah Retno bilang cinta, kirakira...
21/02/10
Penari Ngesot
Woy...
genjang genjot penari ngesot
Woy ay oy...
anekdot alot rakyat melotot
Woy ay oy...
mereka berargot kita berlemot
Woy ay oy...
para pembelot berima ngotot
Woy ay oy...
itu bandot
ini bekicot
itu bangkot
ini bolot
dam dim dum
dim dum dam
dum dam dim
Woy...
kita melotot sampai belotot
Woy ay oy...
haladalah...
itu depot empotempot
tetap saja
lemot
genjang genjot penari ngesot
Woy ay oy...
anekdot alot rakyat melotot
Woy ay oy...
mereka berargot kita berlemot
Woy ay oy...
para pembelot berima ngotot
Woy ay oy...
itu bandot
ini bekicot
itu bangkot
ini bolot
dam dim dum
dim dum dam
dum dam dim
Woy...
kita melotot sampai belotot
Woy ay oy...
haladalah...
itu depot empotempot
tetap saja
lemot
Langganan:
Postingan (Atom)

