27/03/10

Jurang Sepi

pernah ku katakan padamu tentang sekerat mimpi yang dulu menjadi peratapan di pertemuan udara kita. mimpi yang membuatku lena di setiap waktu. mimpi tentang bintang dan bulan yang ingin ku hadiahkan padamu. tapi petaku jatuh di persimpangan tiga kemarin, di mana kita biasa berbicara pada rumput dan pepohonan. hingga kini aku tersesat pada jurang yang punya banyak ilalang berduri tumbuh liar di tepi-tepinya. sebenarnya telah ku coba mendapatkan peta lainnya tapi sepinya jurang merusak segala rencana. jurang ini terlalu diam dan kelam seakan dia enggan mengajariku bagaimana cara berbisik. hanya desir angin sekali sekala menemaniku dalam mereguk secangkir sepi. dan aku mulai terbiasa. aku mulai menikmati aroma sepi ini dengan sepotong hikmah pada pinggan yang mulai retak. ku teguk dan ku cicipi manisnya hingga ketika bahasa tubuhmu bilang padaku dengan angkuh bahwa kau telah mendapatkan bintang serta bulan daripada yang lain, aku tidak lagi peduli. sebab sepi ini sudah begitu menyatu pada luruh jantungku. kemudian aku buat rumah berbahan remuk, bercatkan darah di jurang yang diam dan kelam ini. untuk sementara ini, aku tidak peduli sebab aku terlalu betah.

24/03/10

Mereka Ada di Jalan

ketika jalan,
aku tidak mengerti apa niat tengah melekat
koar trotoar dihimpit muka-muka lusuh dengan musikalisasi tutup botol
menari pada kehidupan
menyanyikan segala kemuraman
mereka aku sama saja
cuma aku lahir puluhan tahun lebih dulu

ketika jalan,
aku tidak mengerti apa maksud tengah termaktub
orok menetek pada ibu muda yang tengah berperang dengan deru debu jalanan
susu sachetan dikoyak
air mineral dijejal
aku meroyak
ini ginjal jadi terganjal
aku benci teramat mudah
aku mudah teramat benci

ketika jalan,
aku pikir aku perlu menutup mata
biar mati aku punya rasa

SenyumMu

Berikan aku senyumMu
ketika di luar cukup berisik
hujan deras

Berikan aku senyumMu
ketika di dalam cukup mendersik
hati keras

salahku telah menyampah melewati batas sempadan itu
menjulang tinggi tak terlihat
menumpuk selaik bukit merah darah
aku malu...
padaMu
padaku
pada mereka
pada batu dan pasir yang berserakan di halaman

aku sebaik atau seburuk, Kau yang tahu
dengan bersimpuh dan bulirbulir menderai lerai
saja ku berharap,
Berikan aku sedikit senyumMu

Berikan aku senyumMu
ketika hati mendadak kosong
dan pikir tetiba mati
jiwa mulai terombang
menjelaga lalu gelap gulita
aku meringkik resah
remuk!

suara adzan terdengar!
baiklah, aku akan menghadapMu

13/03/10

Schizophrenia

seems kind and nice
with her mellow eyes
of the bird of dove
in the cloudy cove

seems beauty and grace
in her innocent face
of the girl of repent
of a thousand pretend

schizophrenia to schmooze
in the darkness moon
bite you like a bloody booze
carve you in the gravestone soon

when you slack, she stab
when you back, she grab
then here comes you are
in the dead area

Terhadap Budhie El-Gibran

ayo bangun!
ini bukan saatnya
terjerat serat
pada besi tua
yang berkarat keparat

ayo bangun!
ini bukan waktunya
terhempas ampas
pada bias tempias
yang makin meluas lepas

kau aku mereka sama saja
samasama manusia
biasa saja
bawa sayapmu,
aku bawa sayapku
Jangan meragu haru

dengar!
gemeletap langkah kaki
setan sayup terdengar
lalu berkoar hajar
kini usah peduli lagi
jangan lagi mati
jangan pernah lagi..