27/03/10

Jurang Sepi

pernah ku katakan padamu tentang sekerat mimpi yang dulu menjadi peratapan di pertemuan udara kita. mimpi yang membuatku lena di setiap waktu. mimpi tentang bintang dan bulan yang ingin ku hadiahkan padamu. tapi petaku jatuh di persimpangan tiga kemarin, di mana kita biasa berbicara pada rumput dan pepohonan. hingga kini aku tersesat pada jurang yang punya banyak ilalang berduri tumbuh liar di tepi-tepinya. sebenarnya telah ku coba mendapatkan peta lainnya tapi sepinya jurang merusak segala rencana. jurang ini terlalu diam dan kelam seakan dia enggan mengajariku bagaimana cara berbisik. hanya desir angin sekali sekala menemaniku dalam mereguk secangkir sepi. dan aku mulai terbiasa. aku mulai menikmati aroma sepi ini dengan sepotong hikmah pada pinggan yang mulai retak. ku teguk dan ku cicipi manisnya hingga ketika bahasa tubuhmu bilang padaku dengan angkuh bahwa kau telah mendapatkan bintang serta bulan daripada yang lain, aku tidak lagi peduli. sebab sepi ini sudah begitu menyatu pada luruh jantungku. kemudian aku buat rumah berbahan remuk, bercatkan darah di jurang yang diam dan kelam ini. untuk sementara ini, aku tidak peduli sebab aku terlalu betah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar