berawal dari kasihnya kasih, kemudian pergi
seorang anak; kurus, hitam, tanpa dosa,
disekitarannya orang-orang terkasih
yang mengasih kemudian pergi
terlindung si anak dari angkara murka dunia atau
dari apa yang dikasih oleh orang terkasih yang mengasih
terlindung dari kewajiban dunia
lalu berlindung di bawah ketiak mereka
ah..........
si anak hanyalah anak;
yang menerima semua yang dikasih tanpa harus mengerti
di perjalanan ia gontai sementara waktu tak hendak perduli
orang yang mengasih; satu persatu pun pergi,
sebahagian tak lagi mampu untuk mengasih
dunia pun terbentang luas dihadapan,
cakrawala berkembang membentuk pandangan
semesta bergetar, sang surya terus bersinar
menyambut hari dengan pasti
lama si anak terdiam...
menelaah apa yang telah tertinggal tadi di belakang
harapkan cahaya petunjuk kehidupan,
pemberi ruang dalam kegalauan
hampa berharap dari orang terkasih yang mengasih
dimensi waktu, pembelajaran hidup,
penguasaan eksistensi menghantamnya,
si anak terjerembab dan mengeluh
lalu bangkit dan mengeluh lagi
dimana terkasih ketika ku butuh,
bertanya anak dalam hening di malam sepi
tak terjawab.
putaran roda begitu cepat
menghentakkan si anak dalam kesendirian
mencoba kuat, ia berpegang
pada tiang-tiang sandaran halusinasi tiada henti.
semerta terhoyong ke dalam pusaran ilusi
melewati kisi-kisi mimpi
dewasaku sebuah tragedi !
si anak berkata pada dinding yang tak berkata-kata
apa ini semua? aku tak mengenalnya.
Tak ada yang mengajariku,
tidak juga dari kau!
bahkan tidak dari terkasih yang mengasih,
bertanya anak pada cermin
di pojok kamar sepi, di atas dinding, di dalam mimpi.
29/11/09
Selimutku Carut Marut
Selimut ni gak cukup tebal walau Ia tebal.
bayangku menunggu letupan rindu di puncak kalbu
hasratku membuncah terpendam dalam ketidaktahuan
kututupi dengan selimut yang sudah carut-marut
kubuka sedikit..terlihat rumit
tenang....................
ku coba tenang,
gak usah bimbang, aku orang pasti menang
bertenang-tenanglah walaupun bimbang
karena Allah maha pengasih lagi maha penyayang
bayangku menunggu letupan rindu di puncak kalbu
hasratku membuncah terpendam dalam ketidaktahuan
kututupi dengan selimut yang sudah carut-marut
kubuka sedikit..terlihat rumit
tenang....................
ku coba tenang,
gak usah bimbang, aku orang pasti menang
bertenang-tenanglah walaupun bimbang
karena Allah maha pengasih lagi maha penyayang
Teori Kemungkinan
Mungkin...
aku kaya
isteri soleha
anak tiga
luar biasa!
Mungkin...
aku kaya
isteri durhaka
anakpun sama
haram jadah!
Mungkin...
aku miskin
isteri yakin
anak alim
adem!
Mungkin...
aku miskin
hina dina
muram durja
sampah dunia
penuh nista
haram jadah
apa lagi ya ?
hahahahaha
tapi ini semua...
Mungkin!
aku kaya
isteri soleha
anak tiga
luar biasa!
Mungkin...
aku kaya
isteri durhaka
anakpun sama
haram jadah!
Mungkin...
aku miskin
isteri yakin
anak alim
adem!
Mungkin...
aku miskin
hina dina
muram durja
sampah dunia
penuh nista
haram jadah
apa lagi ya ?
hahahahaha
tapi ini semua...
Mungkin!
Terhadap Dewi
jalan itu mengingatkanku;
gadis manis
paras ayu
lagi tersenyum
menjengkelkan!
setiap tanah dan bebatuan
hingga rumah-rumah beserta isinya,
setiap hembusan angin menderu-deru
setiap ratapan bahkan lirikan menikamku
entahlah...
sesaat seketika
otakku menjadi pengkhianat
kaki
tangan
mata
hidung
semuanya, ya semuanya
berkonspirasi tengik
memusuhi aku sedaya upaya
jalan itu menghantuiku
bertalu-talu memekakkan aku
meremukkan tulang belulangku
menghancurkan aku tanpa belas kasihan
persetan!
seribu maki
sejuta sumpah
beserta serapahnya sekaligus
tetap saja...
gadis manis
paras ayu
lagi tersenyum
berkelebat-kelebat tak tentu arah
tersembul dari alang-ilalang
menohok otak pengkhianatku ini
dengan pelan tapi tajam
jalan itu masih mengingatkanku
mungkin cuma bertanya kabar,
bagaimana kau dan kekasih dahulu.,
entahlah...
gadis manis
paras ayu
lagi tersenyum
menjengkelkan!
setiap tanah dan bebatuan
hingga rumah-rumah beserta isinya,
setiap hembusan angin menderu-deru
setiap ratapan bahkan lirikan menikamku
entahlah...
sesaat seketika
otakku menjadi pengkhianat
kaki
tangan
mata
hidung
semuanya, ya semuanya
berkonspirasi tengik
memusuhi aku sedaya upaya
jalan itu menghantuiku
bertalu-talu memekakkan aku
meremukkan tulang belulangku
menghancurkan aku tanpa belas kasihan
persetan!
seribu maki
sejuta sumpah
beserta serapahnya sekaligus
tetap saja...
gadis manis
paras ayu
lagi tersenyum
berkelebat-kelebat tak tentu arah
tersembul dari alang-ilalang
menohok otak pengkhianatku ini
dengan pelan tapi tajam
jalan itu masih mengingatkanku
mungkin cuma bertanya kabar,
bagaimana kau dan kekasih dahulu.,
entahlah...
Aku di Malam Kelam Sepi
malam kelam sepi;
tilam
bantal
guling
kipas
muak!
siapa aku malam ini.,
apa aku besok gimana.,
malam makin kelam sepi;
otakku menari,
perasaan mati,
hambar!
aku mau senyum tapi tidak
aku tidak senyum tapi mau
aku senyum tapi tidak mau
masih saja berganti muka
hingga aku takpun pernah tau
apa aku sebenarnya...
tilam
bantal
guling
kipas
muak!
siapa aku malam ini.,
apa aku besok gimana.,
malam makin kelam sepi;
otakku menari,
perasaan mati,
hambar!
aku mau senyum tapi tidak
aku tidak senyum tapi mau
aku senyum tapi tidak mau
masih saja berganti muka
hingga aku takpun pernah tau
apa aku sebenarnya...
Langganan:
Postingan (Atom)

